Reported by : Talenta Priska Andini (1914131078)

Dalam rangka penyelenggaraan Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) yang dicanangkan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Himaseperta (Himpunan Mahasiswa Agribisnis) Fakultas Pertanian Universitas Lampung melakukan sosialisasi dan penyuluhan terkait pembuatan pupuk kompos di Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran (Selasa, 22 September 2021).
Penyuluhan ini merupakan rangkaian kegiatan yang termasuk dalam program “Pengembangan Sentra Tanaman Porang (Amorphopallus muelleri) sebagai Sumber Pangan Potensial untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa Hanura secara Berkelanjutan”.
Pada pelaksanaannya, program ini mayoritas diikuti oleh ibu-ibu anggota PKK dan para anggota kelompok tani Desa Hanura. Materi pembuatan pupuk kompos dipaparkan oleh M. Al Giffari selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Agribisnis (Himaseperta) didampingi oleh Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Effendi, M.S. dan Ibu Yuliana Saleh, S.P., M.Si. Dalam penjelasannya, program ini dilatarbelakangi oleh permasalahan sampah, khususnya sampah organik di Desa Hanura. Oleh karena itu, para mahasiswa memiliki gagasan untuk menanggulangi permasalahan ini dengan memanfaatkan limbah yang ada untuk dijadikan pupuk kompos. Pupuk kompos ini dapat dimanfaatkan pula sebagai media tanam dalam budidaya tanaman porang setelah dicampurkan dengan tanah. Pada budidaya porang, pupuk kompos berperan sebagai penyubur tanah dengan memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan Bahan Organik Tanah (BOT). Pupuk organik ini memiliki kandungan hara makro dan mikro esensial yang baik untuk diaplikasikan pada daun tanaman serta lebih ramah lingkungan.
Menurut penjelasan yang disampaikan, pupuk organik dibuat dengan limbah sayuran sisa konsumsi. Adapun bahan-bahan yang digunakan yaitu limbah sayuran, 1 kilogram gula merah yang telah dilarutkan dengan 1 liter air, 1 liter air cucian beras, dan 1 tutup botol bakteri fermentasi sebagai bioaktivator yang disebut dengan EM4 yang telah dilarutkan dengan 1 liter air. Pembuatan pupuk kompos pertama-tama dilakukan dengan memisahkan sampah organik dengan sampah anorganik. Kemudian, sampah organik dicacah sehingga lebih halus. Cacahan tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam komposter. Komposter ialah alat pengomposan berupa tong atau drum bekas yang dipendam ke dalam tanah. Setelah itu, cacahan sampah organik dicampurkan dengan bioaktivator EM4 yang telah dilarutkan dan ditutup dengan rapat. Komposter diletakkan pada tempat teduh dan didiamkan selama 7 hingga 14 hari agar proses composting dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan pupuk cair dan padat.

Hingga akhir kegiatan, para peserta penyuluhan yakni masyarakat desa antusias mengikuti penyuluhan dan penyuluhan berjalan dengan lancar. Hal ini dibuktikan dengan aktifnya masyarakat dalam mengajukan pertanyaan seputar pupuk kompos. “Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan warna baru dalam dinamika bersama masyarakat desa. Dengan adanya inovasi, semoga masyarakat desa mampu menciptakan gagasan kreatif lain yang dapat memajukan desa menjadi lebih baik.” ujar Rio Remota selaku Kepala Desa Hanura.
